B.U.S

Mengarungi jalanan ibukota nan padat, Bis ukuran sedang itu (saya singkat menjadi BUS/sebenarnya koantas bima, sejenis dengan metro mini atau kopaja) melaju dengan kecepatan tinggi bak dikejar setan (mungkin setan bernama setoran), sikapnya sangat acuh tak acuh terhadap pengguna jalan yang lain yang resah akan tingkahnya dan mereka pun masih dipaksa untuk menerima oleh-oleh berupa
asap hitam hasil pembakaran mesin yang sudah usang. Sesekali juga BUS mengerem mendadak untuk menaikkan turunkan penumpang. Masuk kedalam BUS yang suram, penumpang berdesakkan-desakan terutama pada jam sibuk adalah pemandangan biasa. Ditemani oleh hawa panas yang menyengat, peluh yang membasahi dahi dan masih ditambah dengan asap rokok dari orang-orang yang tak tahu tata krama (berdesak-desakan dalam bis kok sempet-sempetnya merokok?). Badan bis karatan, ban gundul, asap hitam, mesin yang terbatuk-batuk merupakan gambaran umum dari buruknya transportasi ibukota. BUS yang seharusnya sudah memasuki masa purnabakti entah mengapa tak ingin melepaskan jabatannya. Dan keadaannnya pun masih ditambah oleh sikap sopir yang ugal-ugalan sembari mengumpat-umpat dan meraung-raungkan bis sebagai pengganti klakson yang sudah rusak plus teriak-teriakan kernet yang tak jelas.

Bis ini berukuran sedang, jika dilihat memang cukup besar dan cukup kecil sehingga cukup efektif untuk menjadi pilihan taransportasi. Cukup besar karena dapat mengangkut sekian puluh orang ketimbang angkot dan cukup kecil karena bisa menyelap-nyelip ditengah hiruk pikuk kemacetan, hal yang saya rasa sulit untuk dilakukan oleh bis-bis besar. Saya pun tak ketinggalan untuk memakai jasa angkutan ini setiap harinya untuk berangkat dan pulang kuliah. Tak sedikit orang yang kesal menyaksikan tingkahnya yang ugal-ugalan. Tapi dilihat dari sisi lainnya ada yang menarik jika kita bisa mengambil pelajaran dari bis ini. Memang didalam bis ini suasananya tak kondusif untuk melakukan sesuatu yang menarik. Membaca buku?, tak kondusif mengingat kondisi bis. Mendengarkan musik? suara mesin yang batuk-batuk jauh lebih besar. Tidur? samasekali tak nyaman (yang ada malah kecopetan).

Oleh karenanya berzikir mungkin bisa menjadi salah satu alternatif kegiatan yang dilakukan. Selain mendapat pahala juga memohon keselamatan kepada-Nya mengingat kondisi bis yang agak meragukan. Merenungkan apa yang telah diraih hari ini, menyesali dan meratapi kebodohan yang seharusnya tak di buat,  merencanakan apa yang harus dilakukan untuk besok dan kedepannya adalah beberapa hal yang bisa dilakukan (sebenarnya adalah merenung, melamun atau berimajinasi) Tentunya dalam merencanakan tak perlu dengan menulis-nulis di catatan mengingat otak manusia pun sudah sangat cukup untuk menampung semuanya. Pelajaran lain yang dapat diambil adalah kita dapat melihat langsung bagaimana perjuangan kaum papa yang berjuang untuk hidup diatas kerasnya tanah ibukota. Dan kitapun dapat dengan jelas melihat kesenjangan
ibukota yang semakin melebar saja. Yah begitulah. Mungkin saya hanya berharap agar transportasi di ibukota segera berbenah dan meningkatkan kualitasnya. Dan saya juga berharap agar bisa lebih banyak memetik hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa yang saya alami selama mengikuti perjalanan “horor” ini.

3 comments on “B.U.S

  1. @arie: transportasi di jakarta memang seharusnya harus lebih manusiawi mas. semoga DKI mampu merevolusi transportasinya agar lebih baik.
    @mas bambang simanjuntak: hahahahaha betul sekali. sangat sulit untuk menemukan tempat meditasi yang baik di Jakarta. mau tidak mau di bis pun jadi tempat untuk bermeditasi😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s