Euforia Sepak Bola Indonesia dan Kekecewaan

Piala AFF yang menjadi ajang pembuktian negara terbaik dalam sepakbola Asia Tenggara telah berlalu. Namun kekecewaan yang masih melekat dihati kita mungkin belum sirna. Penampilan apik laskar merah putih sejak babak penyisihan hingga leg ke 2 babak semifinal memberikan kita, para pecinta sepakbola tanah air angin segar akan hadirnya prestasi. Setelah sekian tahun timnas kita kehausan gelar juara tibalah saatnya bagi kita untuk meraih momentum tersebut. Agar bisa menciptakan sejarah untuk pertama kalinya, menjadi jawara dalam piala AFF. Di awali dengan kemenangan 5-1 atas musuh abadi Malaysia, di susul oleh pesta gol 6-0 melawan Laos dan menaklukkan tim kuat Thailand sang gajah putih 2-1. Performa apik Firman dkk diteruskan dengan dua kali mengalahkan
timnas filipina di stadion Gelora Bung Karno (kedua semifinal dimainkan di Jakarta). Christian Gonzales menjadi pahlawan dengan menyarangkan gol tunggal di dua pertandingan sehingga Indonesia menang atas Filipina 1-0 sebanyak dua kali. Penampilan yang luar biasa bagi timnas, bagaimana tidak. Timnas Filipina baru saja memboyong sebanyak 10 pemain asing untuk dinaturalisasi menjadi warga Filipina dengan harapan timnasnya dapat mencetak sejarah di Piala AFF (sejarah itu terjadi ketika timnas filipina lolos ke semifinal) serta tidak lagi menjadi bulan-bulanan lawannya.

Indonesia tak ketinggalan untuk menaturalisasi pemain, Christian Gonzales dan Irfan Bachdim adalah dua pemain pemain naturalisasi yang ikut diturunkan di ajang sepakbola paling bergengsi di Asia Tenggara. Gonzales pemain yang sudah lama malang melintang di dunia persepakbolaan Indonesia dan Irfan Seorang Belanda yang ayahnya Indonesia. Selama pergelaran AFF berlangsung dua nama tersebut menjadi bintang bak selebritis. Kaos yang bernomor 17 (Irfan) dan 9 (Gonzales) laris manis bak kacang goreng.
Bukan hanya baju mereka baju pemain timnas yang lain pun tak kalah laris. Tua muda, pria wanita, tak ketinggalan memakai baju timnas dengan kebanggaan serta garuda dan merah putih terpatri di dada. Masyarakat menilai bahwa naturalisasi yang di lakukan adalah sebuah langkah yang sukses dalam mengembangkan sepakbola Indonesia. Ditambah oleh penampilan gemilang para pemain muda seperti Arif Suyono, Ahmad bustomi, okto maniani, M. Nasuha dan juga di dampingi oleh pemain senior macam Firman Utina dan Maman Abdurrahman. Penampilan gemilang sejak awal pergelaran ini membuat masyarakat Indonesia larut dalam euforia kemenangan dan muncul kebanggaan tersendiri dalam setiap hati warga Indonesia. Hampir semuanya yakin bahwa Indonesia akan mudah menaklukkan Malaysia yang pada babak penyisihan di cukur 5-1 oleh Indonesia.

Harapan seakan sirna ketika timnas pulang ke tanah air dengan membawa oleh-oleh kekalahan tiga gol tanpa balas di final pertama. Kekalahan ini membuat sebagian publik sepakbola kecewa dan pesimis timnas dapat menjuarai piala AFF ini. Namun banyak juga yang tetap optimis dan terus mendukung timnas. Banyak polemik yang mewarnai kemenangan 3-0 malaysia di stadion Bukit Jalil, termasuk sikap suporter negeri jiran yang tidak sportif ketika menembakkan laser ke wajah pemain Indonesia dan termasuk adanya dugaan suap. Tentu masyarakat Indonesia tak rela bila pada final terakhir melihat timnas Malaysia mengangkat piala di stadion Gelora Bung Karno. Namun kenyataan berkata lain, walaupun timnas kita menang 2-1, tetapi kita kalah dalam agregat gol (2-4). Ya, kita harus rela melihat timnas Malaysia berpesta di stadion kebanggaan kita.

Kecewa? pasti. Namun sebaiknya kita tidak boleh terlalu larut dalam kekecewaan. Sebab bukan hanya timnas kita saja yang kecewa. Malaysia bolehlah berbangga hati dan menetapkan libur nasional sehari setelah memenangkan pergelaran akbar tersebut. kita kecewa karena sudah 4 kali masuk final namun belum juga juara. Thailand dan Singapura yang masing-masing menjadi pengumpul trofi terbanyak masing-masing sebanyak tiga gelar sangat kecewa karena tak lolos ke babak semifinal. Padahal Thailand dan Singapura selalu bersaing menjadi raja di Asia Tenggara Filipina yang memasang 10 pemain naturalisasi dalam starting XI tak kalah kecewa juga. Ekspektasi yang tinggi tentunya bagi timans filipina mengingat sudah banyak pemainnya yang malang melintang di dunia
persepakbolaan Eropa, tetapi mereka kandas di babak semifinal. Vietnam sang juara bertahan sama kecewanya karena tak bisa mempertahankan gelar pertamanya pada ajang dua tahun lalu dan juga harus melihat kekalahan timnas mereka melawan malaysia di Hanoi. Laos dan Myanmar pasti juga kecewa. Kedua tim ini selalu menjadi bulan-bulanan lawannya dan menjadi ladang pengumpul poin bagi timnas lain. Maka dari satu turnamen hanya ada satu juara. Timnas Indonesia mungkin belum bisa menjadi juara pada ajang piala AFF yang baru selesai kemarin.

Namun kita masih punya kesempatan di ajang Piala AFF yang akan digelar pada 2012. Dengan pemain-pemain muda yang pada ajang kemarin sudah menunjukkan kualitasnya bukan tak mungkin Indonesia bisa menjuarai Piala AFF berikutnya. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s