Kembali ke Dinar Dirham dan Permasalahannya

Ketika bertanya tentang mata uang islam hampir semua kalangan sepakat bahwa dinar (emas) dan dirham (perak) adalah mata uang yang islami.  Tidak heran mengingat dinar dan dirham pernah dipakai oleh Rasulullah SAW dan diteruskan oleh para khalifah sesudahnya sebagai alat pembayaran dan tukar menukar yang sah pada masa itu. Maka dari itu dinar dan dirham merupakan sunnah Rasul yang harus diikuti. Selain itu beberapa kalangan juga menganggap bahwa kedua mata uang ini relatif tahan terhadap krisis keuangan yang selama ini kerap melanda beberapa negara atau bahkan seluruh dunia. Oleh karenanya banyak kalangan yang menginginkan untuk segera kembali kepada standar emas diantaranya adalah Umar Ibrahim Vadillo, Taqiyuddin An Nabhani bahkan ekonom Austria Ludwig von Mises. Namun rencana ini bukannya tanpa tantangan,
penentangan datang dari ekonom aliran keynesian dimana mereka merupakan ekonom penganjur intervensi pemerintah. Menurut kelompok ini, standar emas akan mengakibatkan terbatasnya ruang gerak pemerintah dalam melakukan intervensi terhadap perekonomian terutama jika terjadi resesi yang mengharuskan pemerintah untuk segera mengatur peredaran uang dengan cepat. Anggapan ini di sanggah oleh para ekonom Austrian yang beranggapan bahwa depresi perekonomian merupakan sebuah konsekuensi siklis yang mesti terjadi terutama setelah ekspansi moneter yang
sangat besar pada perang dunia I.
Belakangan ini terutama selepas perang dunia I standar emas mulai ditinnggalkan dan banyak negara yang beralih kepada standar fiat (standar kepercayaan dimana uang kertas yang ada tidak dijamin oleh emas melainkan dijamin oleh undang-undang). Muncul pertanyaan, apakah memang kita harus kembali kepada sistem dinar dan dirham?. Beberapa kalangan  menyebutkan bahwa fiat standart yang berlaku pada saat ini adalah tidak sesuai dengan syariah selama belum memakai sistem dinar dan dirham. Kemudian fakta bahwa uang emas tahan banting terhadap krisis dan anti inflasi, mengharuskan kita untuk secepatnya meninggalkan fiat standart. Kembali kepada dinar dan dirham agaknya merupakan hal yang bagus, namun sebaiknya rencana ini di tinjau terlebih dahulu agar kedepannya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kedepannya.
Namun, Superioritas emas bukannya tanpa kelemahan. Seperti yang kita ketahui bahwa emas dan perak merupakan sumber daya alam yang terbatas dan sangat sedikit jumlahnya dan sifat bendanya yang tidak dapat di perbaharui. Ini menjadi masalah mengingat perekonomian dunia yang terus tumbuh dan melaju serta jumlah penduduk bumi yang terus bertambah membutuhkan kehadiran sebuah standar mata uang yang dapat mengimbangi perekonomian yang terus melaju pesat. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah persediaan dinar dan dirham yang ada saat ini sudah menyamai sirkulasi seluruh uang yang ada di dunia?. Kalaupun sudah bisa menyamai atau mengimbangi sirkulasi uang tak menjadi masalah, namun bagaimana jadinya apabila dinar dan dirham yang tersedia tak dapat mengimbangi pertumbuhan ekonomi?. Tentu akan hal ini akan mengakibatkan kekurangan uang dalam perekonomian yang menyebabkan terjadinya deflasi yang dapat membuat lumpuh seluruh kegiatan ekonomi. Dalam mengatasi deflasi tentu di butuhkan ekspansi moneter dengan penambahan uang dalam perekonomian. Caranya dengan menambang atau mencari lokasi penambangan emas untuk diolah menjadi uang yang siap pakai. Masalahnya tidak akan berhenti sampai disini mengingat
bekas lokasi penambangan tentu akan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang harus ditutupi dengan dana yang tidak sedikit serta membutuhkan waktu yang sangat lama agar fungsi lingkungan yang telah rusak berfungsi seperti semula. Dalam hal ini negara harus menanggung beban sosial dan lingkungan yang semakin berat. Tak berlebihan mengingat saat ini banyak kasus pencemaran lingkungan terjadi di sekitar lokasi tambang yang juga memicu konflik dengan penduduk sekitar seperti di NTT, Sulut dan juga di Papua. kita tentu tak ingin melihat berapa banyak lagi lokasi tambang yang rusak. selain itu bukankah kita juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan? Permasalahan berikutnya dalam standar emas adalah bahwa tidak semua negara memiliki tambang emas yang mereka perlukan untuk memenuhi kebutuhannya akan uang. ini menjadi permasalahan yang ditunggu pemecahannya. Selain itu standar emas dan perak juga sangat dipengaruhi oleh hasil dari pertambangan apabila di temukan lokasi tambang baru dapat menimbulkan inflasi dan menyebabkan deflasi apabila hasil tambang
turun.

Dan bagaimana pula dinar dan dirham menjawab tantangan dari hukum Gresham yang berbunyi The bad money always drives out good money. Misalkan nilai perbandingan emas dan perak adalah 1:17, yang berarti 1 gram emas dapat ditukar dengan 17 gram perak. Misalnya ditemukan pertambangan perak yang mengakibatkan bertambahnya perak di masyarakat. Nilai pertukaran emas dan perak berubah menjadi 1:18. Untuk mendapatkan keuntungan 1 gram perak masyarakat melebur uang 1 emasnya. Dengan demikian setiap melebur satu uang emas akan mendapatkan keuntungan satu uang perak. Dan akibatnya uang emas (good money) lama kelamaan akan terlebur dan habis serta hanya tinggal uang perak (bad money) yang menjadi alat transaksi. Kembali ke standar emas dan perak merupakan gagasan yang bagus, tetapi agaknya permasalahan masih saja menghadang dan menuntut penyelesaian.
Oleh karenanya penting bagi kita untuk terlebih dahulu melihat dari berbagai aspek sebelum melangkah lebih jauh untuk kembali ke standar emas dan perak.

One comment on “Kembali ke Dinar Dirham dan Permasalahannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s