Uang Kertas Dalam Bank Syariah

Dalam sebuah tongkrongan diskusi di kampus saya yang sedang membahas tentang fiat standard vs gold standard tiba-tiba muncul sebuah tanggapan dari salah seorang peserta tongkrongan yang menyatakan bahwa fiat standard dalam bank syariah adalah tidak syariah dan dinar dirham adalah sah menurut syariah. Benarkah demikian?. Agaknya mesti di tinjau lebih jauh. Telah kita ketahui bahwa dinar-dirham merupakan mata uang yang di gunakan pada masa Rasulullah SAW dan diteruskan oleh para khalifah.
Dan telah diketahui bahwa mata uang tersebut (dinar dan dirham) di gunakan sebagai standar harga terhadap suatu barang atau jasa, sebagai media pertukaran dan juga sebagai alat saving atau menabung. Bukankah standar kertas mempunyai fungsi yang relatif sama dengan dinar dan dirham?.
Mungkin agak kurang tepat jika menganggap bahwa penerapan fiat standart dalam bank syariah tidak sesuai dengan syariah. Sebagaimana di kemukakan oleh M. Cholil Nafis Ph D (Koordinator kekhususan Ekonomi dan keuangan syariah Program Pascasarjana PSTTI – UI) sebagaimana saya kutip dari majalah sharing Edisi 48 Thn V Desember 2010 bahwa
menurutnya syariah atau tidaknya suatu transaksi bisa dilihat dari dua sisi yaitu objek barang tersebut serta cara dalam bertransaksi. Objek barang yang di haramkan adalah karena najis atau bisa juga barang tersebut membawa mudharat. Serta cara transaksinya karena barang tersebut didapat dengan cara yang tidak halal seperti mencuri, menipu, spekulasi, curang, hasil berjudi dan lainnya. Jikalau Rasulullah SAW  mengunakan dinar dan dirham sebagai alat transaksi bukan berarti hanya merujuk kepada mata uang tersebut saja. Hal ini dapat di lihat dari tiga aspek, Pertama uang kertas dapat di analogikan sebagai dinar sebagai standar nilai, alat tukar serta saving. Kedua bahwa dalam semua teks agama yang menyebutkan dinar dan dirham tidak ditegaskan bahwa mata uang itu adalah satu-satunya alat transaksi. ketiga karakteristik dari muamalah sendiri yang dinamis dan mengikuti perkembangan manusia diserahkan kepada kreatifitas manusia sepanjang tidak berbuat zalim. Karena pada dasarnya muamalah adalah halal. Jadi menurutnya tidak tepat menyebut bahwa bank syariah tidak menjalankan syariah karena menggunakan mata uang kertas. Namun bank syariah juga tetap perlu meningkatkan kualitasnya.
Wallohu a’lam bi’isshawab

One comment on “Uang Kertas Dalam Bank Syariah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s