KAFALAH

1. Pengertian

Kafalah secara bahasa artinya adh-dhamanu (menggabungkan), atau a-dhaman (jaminan), hamalah (beban) dan za’amah (tanggungan).

Sedangkan menurut istilah, kafalah merupakan jaminan yang di berikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang di tanggung[1]. Dalam pengertian lain , kafalah juga berarti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang di jamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin.

Kafalah menurut mazhab hanafi adalah suatu tindakan penggabungan tanggungan orang yang menanggung dengan tanggungan penanggung utama terkait tuntutan yang berhubungan dengan jiwa, hutang, barang atau pekerjaan. Sedangkan definisi menurut ulama terkemuka lainnya, kafalah adalah penggabungan antara dua tanggungan terkait tuntutan dan hutang[2].

Kafalah kadang di sebut juga sebagai wakalah bersyarat[3]. Dalam hal ini kita bersedia memberikan jasa kita untuk melakukan sesuatu atas nama orang lain, jika terpenuhi kondisinya, atau jika sesuatu terjadi. Misalkan, seorang dosen menyatakan kepada asistennya demikian: “anda adalah asisten saya. Tugas anda adalah menggantikan saya mengajar bila saya berhalangan”. Dalam kasus ini asisten hanya bertugas mengajar (melakukan sesuatu atas nama dosen) jika dosen berhalangan (bila kondisinya terpenuhi, jika sesuatu terjadi).

Skema kafalah

Skema Kafalah

2. Landasan Hukum Syariat

a. Al-Qur’an

Dasar hukum untuk akad memberi kepercayaan ini dapat di pelajari dalam Al-Qur’an pada bagian yang mengisahkan Nabi Yusuf.

Penyeru-penyeru itu berseru, ‘kami kehilangan piala raja dan barangsiapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh makanan seberat (seberat) beban unta dan aku menjamin terhadapnya.’” (Yusuf: 72)

Kata za’im yang berarti penjamin dalam surah Yusuf tersebut adalah gharim, orang yang bertanggung jawab atas pembayaran.

b. Al-Hadits

Landasan syariah dari pemberian fasilitas dalam bentuk jaminan kafalah pada ayat di atas di pertegas dalam hadits Rasulullah sebagai berikut:

Artinya:

“Telah di hadapkan kepada Rasulullah SAW. (mayat seorang laki-laki untuk di shalatkan) ….Raulullah SAW bertanya “apakah dia mempunyai warisan?” Para saahabat menjawab “tidak” Rasulullah bertanya lagi, apakah dia mempunyai utang?’ Sahabat menjawab “Ya, sejumlah tiga dinar.” Rasulullah pun menyuruh para sahabat untuk menshalatkannya (tetapi beliau sendiri tidak). Abu Qatadah lalu berkata, “saya menjamin utangnya, ya Rasulullah.” Maka Rasulullah pun menshalatkan mayat tersebut. (HR Bukhari no. 2172, kitab al-Hawalah)

Para Ulama sepakat terkait di bolehkannya kafalah , dan kaum muslimin pun masih tetap melakukan kafalah di antara mereka sejak zaman kenabian sampai saat sekarang ini tanpa ada seorang ulama pun yang memungkiri[4].

3. Rukun dan Syarat Kafalah

Rukun dan syarat kafalah adalah sebagai berikut[5]:

1. Pihak Penjamin (Kafiil), syaratnya:

a. Baligh (dewasa) dan berakal sehat.

b. Berhak penuh untuk melakukan tindakan hukum dalam urusan hartanya dan rela (ridha) dengan

tanggungan kafalah tersebut.

2. Pihak Orang yang berutang (Ashiil, Makfuul ‘anhu), syaratnya:

a. Sanggup menyerahkan tanggungannya (piutang) kepada penjamin.

b. Dikenal oleh penjamin.

3. Pihak Orang yang Berpiutang (Makfuul Lahu), syaratnya:

a. Diketahui identitasnya.

b. Dapat hadir pada waktu akad atau memberikan kuasa.

c. Berakal sehat.

4. Obyek Penjaminan (Makful Bihi), syaratnya:

a. Merupakan tanggungan pihak/orang yang berutang, baik berupa uang, benda, maupun

pekerjaan.

b. Bisa dilaksanakan oleh penjamin.

c. Harus merupakan piutang mengikat (lazim), yang tidak mungkin hapus kecuali setelah dibayar

atau dibebaskan.

d. Harus jelas nilai, jumlah dan spesifikasinya.

e. Tidak bertentangan dengan syari’ah (diharamkan).

4. Macam-macam Kafalah[6]

a. Kafalah bin-Nafs

Merupakan akad yang memberikan jaminan atas diri. Kafalah jenis ini adalah suatu bentuk komitmen penanggung untuk menghadirkan sosok pihak tertanggung kepada orang yang di tanggung haknya[7].

b. Kafalah bil-Maal

Merupakan jaminan pembayaran barang atau pelunasan utang.

c. Kafalah Bit-Taslim

Jenis Kafalah ini biasa di lakukan untuk menjamin pengembalian atas barang yang di sewa, pada waktu masa sewa berakhir.

d. Kafalah al-Munjazah

Kafalah al-Munjazah adalah jaminan mutlak yang tidak di batasi oleh jangka waktu dan untuk kepentingan atau tujuan tertentu.

5. Ketentuan-ketentuan Hukum Terkait Kafalah[8]

1. Begitu yang di tanggung tidak ada atau hilang, maka penanggung harus menjamin dan tidak boleh keluar dari kafalah kecuali dengan pelunasan hutang darinya atau dari pihak tertanggung utama (tertanggung), atau dengan adanya pembebasan oleh pemberi hutang sendiri dari hutang, atau mengundurkan diri dari kafalah, dan dia berhak untuk mengundurkan diri, karena itu adalah haknya.

2. Pihak yang di tanggung haknya, maksudnya pemberi hutang, berhak untuk membatalkan kesepakatan kafalah secara sepihak meskipun orang yang di tanggung hutangnya atau penanggung tidak ridha. Namun sebaliknya, pihak tertanggung dan penanggung tidak berhak untuk membatalkan kesepakatan kafalah secara sepihak.

6. Berakhirnya Kafalah

Kafalah berakhir apabila[9] :

  • Ketika utang telah diselesaikan, baik oleh orang yang berutang atau oleh penjamin. Atau jika kreditor menghadiahkan atau membebaskan utangnya kepada orang yang berutang.
  • Kreditor melepaskan utangnya kepada orang yang berutang, tidak pada penjamin. Maka penjamin juga bebas untuk tidak menjamin utang tersebut. Namun, jika kreditor melepaskan jaminan dari penjamin, bukan berarti orang yang berutang telah terlepas dari utang tersebut.
  • Ketika utang tersebut telah dialihkan (transfer utang/hawalah). Dalam kasus ini baik orang terutang ataupun penjamin terlepas dari tuntutan utang tersebut
  • Ketika penjamin menyelesaikan ke pihak lain melalui proses arbitrase dengan kreditor.
  • Kreditor dapat mengakhiri kontrak kafalah walaupun penjamin tidak menyetujuinya

7. Aplikasi Kafalah dalam LKS

1. Kafalah bin-Nafs

Contoh aplikasi kafalah bin-Nafs, misalkan seorang nasabah yang mendapatkan pembiayaan dengan jaminan nama baik dan ketokohan seseorang atau pemuka masyarakat. Walaupun bank secara fisik tidak memegang barang apapun , tetapi bank berharap tokoh tersebut dapat mengusahakan pembayaran ketika nasabah yang di biayai mengalami kesulitan.

2. Kafalah bit-Taslim

Jenis pemberian jaminan ini dapat di laksanakan oleh bank untuk kepentingan nasabahnya dalam bentuk kerjasama dengan perusahaan penyewaan (leasing company). Jaminan pembayaran bagi bank dapat berupa deposito/tabungan dan bank dapat membebankan uang jasa (fee) kepada nasabah itu.

3. Kafalah al-Munjazah

Pemberian jaminan dalam bentuk performance bonds “jaminan prestasi”, suatu hal yang lazim di kalangan perbankan dan hal ini sesuai dengan bentuk akad[10].

4. Bank Garansi

Bank Garansi merupakan jaminan pembayaran yang di berikan oleh bank kepada suatu pihak, baik perorangan, perusahaan, badan, atau lembaga keuangan lainnya dalam bentuk surat jaminan[11]. Garansi bank dapat di berikan dengan tujuan untuk menjamin pembayaran suatu kewajiban pembayaran.

5. Syariah Card

Kafalah dapat di aplikasikan dalam syariah card di samping menggunakan akad qard, ariyah atau ijarah. Kafalah dalam hal penerbit kartu adalah penjamin (kafil) bagi pemegang kartu terhadap Merchant atas semua kewajiban bayar (dayn) yang timbul dari transkasi antara pemegang kartu dengan Merchant, dan/atau penarikan tunai dari selain bank atau ATM bank penerbit kartu[12].

6. Pembukaan L/C (Letter of Credit) Impor

Pembukaan L/C akan menimbulkan kewajiban bagi issuing bank untuk melakukan pembayaran kepada beneficiary (eksportir/penjual), karena issuing (bank pembuka L/C) bank mengambil alih kewajiban importir untuk membayar barang yang di bayar kepada eksportir. Untuk itu issuing bank akan meminta jaminan pembukaan L/C dari importir yang berupa setoran marginal deposit/MD[13].

7. Standby L/C

Standby L/C adalah suatu janji tertulis bank yang bersifat irrevocable (tidak dapat di batalkan) yang di terbitkan atas permintaan pemohon untuk membayar kepada beneficiary (eksportir/penjual) atau bank yang mewakili beneficiary untuk melakukan penagihan, apabila dokumen yang di serahkan telah sesuai dengan persyaratan dokumen yang tercantum dalam standby L/C. Dengan demikian , standby L/C ini dapat berfungsi sebagaimana layaknya garansi maupun L/C di mana pemegang jaminan akan mendapat pembayaran dari bank sepanjang sesuai persyaratan standby L/C[14].

8. Asuransi Syariah (takaful)

Perusahaan asuransi merupakan pihak penanggung atau penjamin, sedangkan peserta asuransi adalah pihak tertanggung atau yang di jamin. Sehingga dalam suatu asuransi terdapat perjanjian antar kedua belah pihak, dimana pihak yang terjamin di wajibkan membayar premi asuransi dalam masa tertentu, lalu pihak yang menjamin akan mengganti kerugian jika terjadi sesuatu pada diri si terjamin[15].

8. FATWA DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 11/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Kafalah

MEMUTUSKAN

Menetapkan : FATWA TENTANG KAFALAH

Pertama : Ketentuan Umum Kafalah

1. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad).

2. Dalam akad kafalah, penjamin dapat menerima imbalan (fee) sepanjang tidak memberatkan.

3. Kafalah dengan imbalan bersifat mengikat dan tidak boleh dibatalkan secara sepihak.

Kedua : Rukun dan Syarat Kafalah

1. Pihak Penjamin (Kafiil)

a. Baligh (dewasa) dan berakal sehat.

b. Berhak penuh untuk melakukan tindakan hukum dalam urusan hartanya dan rela (ridha) dengan tanggungan kafalah tersebut.

2. Pihak Orang yang berutang (Ashiil, Makfuul ‘anhu)

a. Sanggup menyerahkan tanggungannya (piutang) kepada penjamin.

b. Dikenal oleh penjamin.

3. Pihak Orang yang Berpiutang (Makfuul Lahu)

a. Diketahui identitasnya.

b. Dapat hadir pada waktu akad atau memberikan kuasa.

c. Berakal sehat.

4. Obyek Penjaminan (Makful Bihi)

a. Merupakan tanggungan pihak/orang yang berutang, baik berupa uang, benda, maupun pekerjaan.

b. Bisa dilaksanakan oleh penjamin.

c. Harus merupakan piutang mengikat (lazim), yang tidak mungkin hapus kecuali setelah dibayar atau dibebaskan.

d. Harus jelas nilai, jumlah dan spesifikasinya.

e. Tidak bertentangan dengan syari’ah (diharamkan).

Ketiga : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

Ditetapkan di : Jakarta

Tanggal : 08 Muharram 1421 H.

13 April 2000 M

DAFTAR PUSTAKA

Al Quran Al Karim

Antonio, Muhammad Syafi’i. Bank Syariah: Dari Teori ke Praktek. Jakarta:Gema Insani. 2009

Fatwa Dewan Syariah Nasional MUI 2000

Firdaus, Muhammad dkk. Akad-akad Syariah. Jakarta:Renaisan. 2005

Karim, Adiwaraman A. Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan. Jakarta:Rajawali Pers. 2010.

Kasmir. Dasar-dasar Perbankan. Jakarta:Rajawali Pers. 2003

Rodoni, Ahmad dan Abdul Hamid. Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta:Zikrul. 2008

Saabiq, As-Sayyid, Fikih Sunnah 5. Jakarta: Cakrawala Publishing. 2009. Alih bahasa oleh: Abdurrahim dan masrukin

Sutedi, Adrian. Perbankan Syariah: Tinjauan dan beberapa segi Hukum. Bogor:Ghalia Indonesia. 2009


[1] Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktek. Cet.14. Jakarta: Gema Insani.2009. hal. 123.

[2] As-Sayyid Saabiq, Fikih Sunnah 5. Jakarta: Cakrawala Publishing. 2009. hal. 386.

[3]Adiwaraman A. Karim, Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan. Cet.7. Jakarta:Rajawali Pers. 2010. hal. 69.

[4] As-Sayyid Saabiq, Fikih Sunnah 5. Jakarta: Cakrawala Publishing. 2009. hal. 388.

[5] FATWA DEWAN SYARI’AH NASIONAL NO: 11/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Kafalah

[6] Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktek. Cet.14. Jakarta: Gema Insani.2009. hal. 124-125.

[7] As-Sayyid Saabiq, Fikih Sunnah 5. Jakarta: Cakrawala Publishing. 2009. hal. 389.

[8] Ibid hal. 393.

[9] http://www.kampusbisnisnyasolo.com/wp-content/plugins/…/download.php?id…

[10] Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktek. Cet.14. Jakarta: Gema Insani.2009. hal. 125.

[11] Kasmir. Dasar-dasar Perbankan. Cet.2. Jakarta:Rajawali Pers. 2003. hal 194.

[12] http://sharianomics.wordpress.com/2010/11/25/akad-pada-syariah-card/#more-3031

[13] http://garansibank.blogspot.com/2010/01/sekilas-cara-menerbitkan-lc.html

[14] http://www.bankmandiri.co.id/article/sl01.aspx

[15]Ahmad Rodoni dan Abdul Hamid. Lembaga Keuangan Syariah. Jakarta:Zikrul. 2008. hal 95-96.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s