Merebut Hati Konsumen Dalam Negeri, Bisakah Kita?

Negara Indonesia dengan populasi penduduk mencapai 240 juta jiwa merupakan pasar yang sangat potensial. Dengan jumlah penduduk sebesar itu, sudah seharusnya dapat menjadi peluang bagi para industriawan untuk memasarkan produknya, hal ini belaku bagi kalangan industri di level UKM maupun perusahaan-perusahaan besar, baik dalam bentuk barang maupun jasa. Namun apa daya, produk-produk yang kita hasilkan ternyata kalah bersaing dengan produk impor khususnya dari Cina yang menawarkan harga yang sangat murah. Walhasil, gejala deindustrialisasi mulai terasa di negeri ini. Para entrepreuner yang dulunya bekerja di bidang industri mulai beralih menjadi pedagang karena menurut mereka lebih mudah dan menguntungkan. Hal ini tentu tidak baik bagi kita karena akan menjadi negara konsumtif. Selain itu, fondasi ekonomi kita menjadi rapuh disebabkan oleh ketergantungan terhadap impor apabila jumlahnya begitu besar.
Untuk itulah kalangan industri dalam negeri harus bisa bersaing. Pembatasan investasi dan penetapan tarif bea masuk dewasa ini sepertinya hampir mustahil dilakukan karena arus globalisasi yang deras semakin terasa. Selama ini pertumbuhan industri terhambat oleh high cost economic (ekonomi biaya tinggi) yang sering dialami. Biaya yang dikeluarkan banyak macamnya, ini belum termasuk kerugian waktu karena proses administrasi yang lama. Dampak dari high cost economic akan dirasakan oleh konsumen, entah itu mendapat produk yang kurang bermutu atau harganya yang lebih mahal. Hal ini akan membuat langkah produk dalam negeri untuk menjadi tuan dirumah sendiri menjadi terhambat.
Menurut hemat penulis, ada dua langkah yang perlu diimplementasikan untuk memecahkan masalah ini. Pertama adalah hal yang sudah sering didengung-dengungkan selama ini, yaitu pemberantasan KKN. Pemberantasan KKN harus melibatkan seluruh elemen masyarakat. Hal tersebut mutlak dilakukan karena praktek KKN merupakan salah satu dan dianggap sebagai penyebab high cost economic yang akan menurunkan mutu produk atau tingginya harga jual dari yang seharusnya. Bagaimanapun kalangan industri harus menghasilkan produk yang berkualitas dan terjangkau. Seperti yang kita tahu bahwa mayoritas konsumen Indonesia sangat sentimen terhadap faktor harga. Perubahan harga atau adanya diferensiasi harga yang sedikit berbeda saja akan mempengaruhi preferensi konsumen terhadap suatu barang. Oleh karenanya faktor harga harus menjadi pertimbangan utama selain kualitas barang.
Kedua, hal yang dengungnya sudah semakin redup, menggalakkan kecintaan terhadap produk dalam negeri. Kecintaan terhadap produk dalam negeri adalah salah satu langkah efektif untuk memperkuat pasar domestik karena konsumen mempertimbangkan keputusan dari sisi afektifnya sehingga tidak terlalu sentimen terhadap faktor harga asal kualitasnya menjamin dan harganya masih dalam taraf wajar. Namun, kemajuan Produk dalam negeri membutuhkan kepercayaan seluruh masyarakat Indonesia. Gerakan “Aku Cinta Produk Indonesia” harus kembali digalakkan karena dapat memajukan industri dalam negeri dan memenuhi kebutuhan pasar domestik serta menumbuhkan rasa bangga terhadap negara.
Demikianlah dua langkah untuk merebut hati konsumen dalam negeri. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?.

(Tulisan telah dipublish di harian SINDO jumat 16 september 2011 pada kolom suara Mahasiswa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s