Kepercayaan Pelaku Pasar

Di sebuah pasar dimana belasan ibu-ibu berkerumun di depan toko beras di sebuah pasar hendak membeli beras.

“eh, tiga hari lagi kabarnya harga beras bakalan naik sampai 50%!”. Kata Salah seorang Ibu.

“ah masa?”. Jawab ibu tersebut.

“iya bu, masa situ belum dengar kabarnya?”. timpal ibu-ibu yang laennya.

“iya bu, saya juga udah dengar kabarnya dari temen-temen saya”. Pemilik Toko Beras menanggapi.

“waduh, mana lagi tanggal tua lagi!”. keluh Ibu pertama.

“kalau gitu daripada harganya besok naik terus, mendingan kita borong sekarang aja”. tambah ibu yang entah dimana suara itu berasal.

Sontak ibu-ibu yang ada di toko beras tersebut beramai-ramai memborong beras yang ada di toko tersebut. Alkisah, bukan hanya di toko beras ini saja yang mengalami kejadian seperti ini. Di toko beras sebelah kanan, sebelah kiri dan depan juga mengalami hal serupa. Bukan hanya komoditi beras saja, tapi juga kebutuhan pokok lainnya seperti telur, gula, minyak goreng dan lainnya. Kejadiannya berlangsung serentak di pasar-pasar yang lain. Akibat tindakan panik dan pemborongan beras yang simultan ini tentunya akan membuat masyarakat yang lain untuk melakukan tindakan serupa. Walhasil, sebagai akibat pemborongan atau tindakan spekulatif ini membuat permintaan akan beras meningkat tajam. Sesuai hukum ekonomi Permintaan naik maka harga akan ikut naik.

Narasi singkat diatas menggambarkan bagaimana sebuah isu yang belum jelas darimana sumbernya bisa menyebabkan kenaikan harga. Sebenarnya, apabila masyarakat mau sedikit tenang dan tidak terprovokasi oleh isu ini, harga kemungkinan tidak akan naik dan kalaupun naik terlalu tajam. Terlihat jelas dalam narasi diatas bahwa semua orang ingin memiliki sebanyak mungkin kebutuhan yang diperlukannya kalau-kalau dimasa depan harganya naik. Supply beras yang tetap dan demand yang melonjak secara serempak jelas akan membuat harga naik. Disini terbentuk ekspektasi negatif dari para pelaku pasar mengenai harga dimasa depan.

Kenaikan harga atau biasa kita kenal dengan inflasi yang terjadi dalam narasi  di atas tidak serta merta disebabkan oleh kurangnya supply beras melainkan oleh isu yang membuat masyarakat resah. Yang lebih parah jika ada yang memanfaatkan ketidaktenangan masyarakat ini dengan dengan menimbun stok beras dalam jumlah yang sangat besar (untuk mengurangi supply dengan tujuan mempengaruhi agar harga akan naik) dan selanjutnya dijual pada saat harga makin tinggi. Hal ini bisa jadi dikarenakan pemerintah tidak mampu untuk meyakinkan pelaku pasar untuk tetap tenang dan perilaku oknum tertentu yang sengaja memainkan harga untuk mendapat keuntungan sepihak.

Untuk itu pertama-tama pemerintah harus tegas dalam menjaga kelancaran arus barang untuk memastikan bahwa stok telah aman. Segala bentuk penimbunan yang bertujuan memainkan harga untuk mendapat keuntungan sepihak harus ditindak tegas. Selanjutnya, berikan moral suasion kepada masyarakat agar tetap tenang, bersihkan segala isu negatif mengenai persepsi bahwa harga yang akan naik. Menggelar operasi pasar dengan menambah stok bukan sebuah langkah yang efektif karena laju dari stok barang kebutuhan pokok tersebut cenderung lambat atau bahkan tetap.

Masalahnya utamanya terletak di kepercayaan orang terhadap harga di masa depan yang cenderung negatif. Kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi menurut hemat saya lebih efektif menjaga kestabilan harga ketimbang melakukan operasi pasar. Dengan harga yang stabil maka orang tidak akan resah tentang perubahan harga yang fluktuatif di masa depan sehingga orang tidak akan berspekulasi dan berekspektasi negatif mengenai harga di masa depan. Maka dari sini terbentuklah kepercayaan pelaku pasar yang menjadi prasyarat stabilitas ekonomi pada umumnya dan stabilitas harga pada khususnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s