Mencari bentuk Kompensasi yang Tepat terhadap Naiknya Harga BBM

Bahan Bakar Minyak (BBM) direncanakan akan naik 1 april mendatang akibat akan dipangkasnya subsidi BBM. Kebijakan yang kurang bersahabat ini menuai banyak protes, terutama dari masyarakat. Pemerintah berdalih bahwa kenaikan harga minyak dunia, Indonesia kehabisan minyak untuk ditambang dan demi mengefisiensikan anggaran sebagai alasan untuk mencabut subsidi BBM. Akan tetapi, rakyat sudah terlanjur menikmati subsidi selama bertahun-tahun sehingga sangat sulit dan berat rasanya jika harga BBM naik.

Kenaikan BBM akan menimbulkan masalah seperti inflasi akibat naiknya biaya transportasi dan tarif dasar listrik (TDL) seiring naiknya harga BBM. Banyak kalangan yang meminta agar Pemerintah menunda atau membatalkan kenaikan harga BBM. Berbagai pendapat dikemukakan, mulai dari penghematan pos-pos anggaran lain hingga nasionalisasi perusahaan minyka asing. Namun, jika harga BBM mesti naik, kompensasi seperti apa yang akan diberikan kepada rakyat?.

Jika harga BBM subsidi naik Rp 1.500 menjadi Rp. 6.000 maka pemerintah akan mendapat penghematan Rp 57 triliun (mediabisnisdaily.com, 24/02/12). Pemerintah dalam usulan RAPBN-P 2012 akan memberikan bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) kepada mereka yang paling merasakan imbas kenaikan harga BBM sebesar Rp150.000 per bulan selama sembilan bulan kepada 18,5 juta rumah tangga sasaran (Antaranews.com, 8/03/12). Akan tetapi bantuan langsung tunai ini menuai kritik yang tak kalah pedasnya dengan kenaikan harga BBM. Ada yang menyebutnya sebagai kampanye terselubung dan ada juga yang mengaggap bahwa sebaiknya kompensasi diberikan dalam bentuk kailnya, bukan ikan.

Saya setuju bahwa kompensasi harus diberikan kailnya, tidak dalam bentuk ikan. Dahulu, Bantuan Langsung Tunai (BLT) sering salah sasaran hingga mencapai angka 4,5 % (detik, 10/06/2008), angka itu jelas sangat besar. Apalagi dalam APBN-P 2012 dana BSLM dianggarkan sebesar Rp. 25,6 triliun (Antaranews.com, 8/03/12). Sebenarnya dana sebesar itu dapat digunakan untuk perbaikan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan ekonomi khususnya kepada warga yang merasakan dampak langsung dari kenaikan BBM. Sarana dan prasarana meliputi jembatan, irigasi, jalanan, sanitasi dan lain-lain. Kalau perlu gunakan seluruh anggaran yang dapat dihemat dari pencabutan subsidi sebesar Rp. 56 triliun untuk pembangunan fisik.

Di banyak media, sering kita melihat berita jembatan putus yang melumpuhkan aktivitas ekonomi, jalanan rusak yang dapat merusak hasil panen petani ketika akan dibawa ke pasar, sawah yang kering akibat irigasi tidak berfungsi dan dam yang rusak, sanitasi warga yang buruk dan lain-lain. Dengan memperbaiki infrastrukur sebenarnya sudah cukup untuk mengkompensasi BBM, tidak hanya Rp. 25 triliun bahkan bisa juga Rp. 56 triliun penghematan digunakan untuk kompensasi kenaikan harga BBM ini. Toh, nantinya rakyat juga akan menikmati keuntungannya jika infrastruktur rusak yang sering mengganggu aktivitas ekonomi diperbaiki. Menurut saya, gunakan sisa penghematan untuk itu.

One comment on “Mencari bentuk Kompensasi yang Tepat terhadap Naiknya Harga BBM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s