Sopir Bajaj dan Efisiensi Mekanisme Pasar

Sabtu pagi kira-kira jam 9 pagi, planetarium di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta disesaki oleh anak TK dan SD yang tengah melakukan study tour ke obyek wisata pendidikan tersebut. Saking banyaknya anak-anak yang melakukan study tour, pengunjung umum (termasuk kami) kehabisan tiket untuk pertujukan pertama dan kedua. Pertunjukan ketiga baru akan mulai jam 1 siang, sedangkan loket tiket baru akan buka jam 12 siang. Untuk mengisi kekosongan ini, kami memutuskan untuk makan di es krim ragusa di jalan Veteran II samping masjid Istiqlal.

Perjalanan dari TIM menuju Jalan Veteran dapat ditempuh dengan menggunakan bajaj. Di depan TIM banyak sekali bajaj yang “ngetem“. Tarif bajaj dari TIM ke jalan Veteran sebesar Rp. 10.000. Awalnya sopir bajaj menetapkan tarif bajaj Rp. 15.000, akan tetapi sopir bajajnya kemudian menyetujui tarif Rp. 10.000 ketika kami tawar. Penawarannya pun tidak alot, sopir bajaj tersebut langsung setuju tanpa basa-basi. Rute yang dilalui bajaj melintasi wilayah Kramat, Senen, RSPAD Gatot Subroto, Lapangan Banteng, Kementerian Keuangan, Istiqlal hingga jalan Veteran, jalannya memutar karena memang peraturannya seperti itu. Kami sedikit bingung mengapa sopir bajaj tersebut menetapkan tarif Rp. 10.000 untuk jarak tempuh itu.

Setelah selesai menyantap es krim ragusa, kami berjalan menuju Monas hingga akhirnya tiba di depan kedutaan Amerika Serikat. Disana kami menyetop bajaj yang sedang lewat, tarifnya Rp. 15.000 ke TIM tidak boleh kurang. Tawar menawar berlangsung alot, sopir bajaj tersebut ngotot dan hendak pergi lagi, kami pun menyetujuinya karena di daerah tersebut jarang dilewati kendaraan umum termasuk bajaj. Kami pun rela membayar lebih mahal untuk jarak yang lebih dekat dari bajaj pertama tadi. Jarak yang ditempuh dari depan kedutaan Amerika Serikat hingga TIM jauhnya hanya setengah lebih sedikit dari TIM menuju Jl. Veteran Samping Istiqlal tadi, akan tetapi kami membayar lebih mahal padahal jaraknya lebih dekat.

Kami sadar bahwa ada pelajaran yang dapat diambil dari dua kejadian tadi. Pertama, sewaktu di depan TIM banyak sekali bajaj yang “ngetem” dan lalu lalang di sana. Sopir bajaj pertama mau menerima tarif Rp. 10.000 karena kami memiliki banyak pilihan, jika bajaj yang ini terlalu mahal, kami bisa beralih ke bajaj lain. Kemudian kejadian kedua di depan kedutaan Amerika Serikat, sopir bajaj kedua ini mempunyai posisi tawar yang lebih bagus, dikarenakan tidak ada pesaing, maka sopir bajaj kedua menetapkan harga sekehendaknya sendiri. Dua kasus ini merupakan gambaran dan contoh kecil bagaimana dari sebuah persaingan memunculkan harga yang efisien dan kompetitif tanpa adanya penetapan harga yang memaksanya.

Jadi pelajaran yang dapat diambil adalah betapa mekanisme pasar telah menciptakan sebuah efisiensi, tentu saja konsumen diuntungkan karena mendapat harga yang sepantasnya. Hal ini bukan berarti bahwa mekanisme pasar menzalimi produsen karena mendapat profit yang kecil (sopir bajaj pertama mendapat profit lebih kecil dibanding sopir kedua). Dalam hal ini, keuntungan diambil secara wajar, sopir bajaj pertama menerima tawaran Rp.10.000 karena dia berpikir bahwa uang tersebut mampu menutupi ongkos produksi yang dikeluarkan dan juga menghasilkan laba (ingat : tidak ada orang yang mau menerima keuntungan kecil dan rugi begitu saja), sedangkan sopir bajaj kedua, profit yang diterima terlalu tinggi. Padahal akan terasa adil jika keuntungan diambil secara wajar tanpa merugikan orang lain, tidak karena keterpakasaan serta tidak karena ada kesempatan dalam kesempitan. Tanpa adanya persaingan, maka produsen akan seenaknya menetapkan harga dengan tidak adil, yang bisa dikatakan zalim.

Dalam ekonomi Islam sendiri jelas dan dengan tegas dikatakan bahwa tidak boleh ada yang menzalimi dan dizalimi. Ini hanya gambaran kecil yang terdiri dari dua kasus transaksi. Silahkan anda membayangkan skala yang lebih luas, untuk ukuran Indonesia misalnya yang mana bisa terjadi ratusan juta transaksi setiap harinya. Akhir kata, mekanisme pasar yang adil merupakan jalan menuju efisiensi ekonomi dan tingkat harga yang lebih adil.

7 comments on “Sopir Bajaj dan Efisiensi Mekanisme Pasar

  1. kalo semakin banyak bajaj otomatis tarifnya lebih murah gitu? trus pendapatan supir bajaj (mikro), lebih kecil dong kalo tarifnya murah? mohon penjelasannya mas

    • persaingan ga akan merugikan supir bajaj mbak. harga tarif bajaj akan menjadi wajar bukan berarti kecil, karena kan ga mungkin ada org yang mau rugi.
      terima kasih sudah mau berkunjung🙂

  2. oh gitu yah. terima kasih atas penjelasan dari pertanyaan yang kurang penting ini hehehehe. keep writing and keep blogging🙂 because writing is a part of knowledge transfer and it is very good so you can always learning and thinking🙂 love your blog so much!

    • hehehe iya mbak sama-sama🙂
      yes, with blogging we can share our knowledge and improve the ability to write and cummunicate🙂
      thanks to love my blog. dont forget to follow my blog.
      ayo ngaku ini siapa? aku tau looooh. hahaha😀

  3. mau nanya dong mas !!
    kok bajaj asepnya item ??? bau lagi ??? mana berisik !!!! ~ red bajaj
    in my opinion, blue Bajaj is better than red bajaj..iya kan ???
    kok g di ganti aja sih secara menyeluruh…???? huffffttt
    capay dechhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s