Menghindari Krisis Dengan Menjaga Kesehatan Bank

Perekonomian Indonesia sedang dilanda cobaan berat; nilai tukar rupiah dan bursa saham melemah, inflasi tinggi, dan neraca perdagangan defisit. Hal ini membuat khawatir banyak pihak. Dikhawatirkan, krisis moneter tahun 1998 terulang kembali. Tentunya keadaan ekonomi sekarang berbeda dibanding 15 tahun yang lalu.

Krisis 1998 berawal dari krisis perbankan yang menjalar menjadi krisis ekonomi, sosial, dan politik. Saat ini keadaan perbankan relatif sehat. Ini terlihat dari cukup baiknya rasio-rasio penting dalam menilai kinerja keuangan bank per Juni 2013;  rasio nonperforming earning asset terhadap earning assets bank di Indonesia sebesar 1,57%, capital adequacy ratio sebesar 18,08%, return on assets ratio sebesar 3,02%, dan liquid assets ratio sebesar 16,22% (sumber data: Bank Indonesia).

Pada masa menjelang krisis 1998 kinerja bank menurun karena peningkatan kredit bermasalah, turunnya modal bank, manajemen yang tidak profesional, serta lemah dan longgarnya pengawasan bank. Kemudian, saat nilai tukar rupiah turun banyak bank tidak mampu menunaikan kewajibannya. Ditambah dengan dilikuidasinya enam belas bank pada November 1997, kepercayaan masyarakat kepada perbankan turun dan akhirnya memicu penarikan dana besar-besaran. Imbasnya pertumbuhan sektor riil; manufaktur, perdagangan, investasi, dan konsumsi ikut menurun. Demi mencegah kembalinya krisis perbankan yang dapat menggoyahkan ekonomi nasional, sistem peringatan dini harus betul-betul diperhatikan oleh bank dan lembaga pengawas perbankan.

Bank-bank diharapkan untuk memperhatikan faktor-faktor seperti permodalan, kualitas aset, manajemen, profitabilitas dan likuiditasnya untuk mendeteksi datangnya krisis. Pendeteksian krisis lebih dini akan memungkinkan bank dan lembaga pengawas perbankan melakukan tindakan guna mencegah terjadinya krisis. Oleh karena itu, dibutuhkan pengawasan yang ketat dan transparan agar bank-bank di Indonesia mampu menjaga kualitas kredit dan likuiditasnya, meraih profit, menjaga tingkat efisiensinya dan menerapkan good corporate governance (GCG).

Perbankan yang sehat dan kuat berarti memperkuat perekonomian nasional sebab melalui perbankan dana dimobilisasi ke berbagai sektor riil. Krisis ekonomi tahun 1998 memberikan kita pelajaran akan pentingnya peran strategis perbankan dalam perekonomian nasional.

*Tulisan dimuat pada Poros Mahasiswa SINDO edisi Sabtu 14 September 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s